Bijak Bermedia Sosial Saat Ramadhan: Jaga Jari, Jaga Hati
Bulan Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga lisan, sikap, dan perilaku — termasuk di ruang digital. Di era media sosial, ujian bukan hanya dari apa yang kita ucapkan secara langsung, tetapi juga dari apa yang kita tulis, komentari, dan bagikan.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…” (QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini menegaskan pentingnya tabayyun (klarifikasi) sebelum menyebarkan informasi. Dalam konteks media sosial, prinsip ini menjadi benteng dari penyebaran hoaks dan fitnah.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)
Lebih khusus lagi terkait puasa, Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Muhammad al-Bukhari)
Hadits ini menjadi pengingat bahwa esensi puasa bukan sekadar menahan diri dari hal yang membatalkan secara fisik, tetapi juga menjaga ucapan dan perilaku, termasuk dalam interaksi digital.
Media sosial seperti Facebook, Instagram, dan TikTok telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Karena itu, kebijaksanaan dalam menggunakannya menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas ibadah.
Beberapa langkah bijak bermedia sosial selama Ramadhan:
- Al-Qur'an – QS. Al-Hujurat: 6
- Sahih Bukhari
- Sahih Muslim