Bijak di Dunia Digital: Peran Orang Tua Menangkal Konten Negatif untuk Anak
Di zaman serba digital ini, anak-anak tumbuh dengan gawai di tangan mereka. Internet bisa jadi tempat belajar dan hiburan, tapi juga penuh dengan konten negatif yang bisa perlahan memengaruhi cara berpikir dan berperilaku anak. Konten seperti kekerasan, kata-kata kasar, atau hal yang tidak sesuai usia mereka dapat “menyusup” tanpa disadari.
Pesan dari Badan Narkotika Nasional (BNN) mengingatkan kita semua: “Konten negatif dapat merusak perilaku anak secara senyap. Tidak hanya yang mereka lihat, tetapi juga yang mereka serap.” Karena itu, peran orang tua jadi sangat penting dalam menjaga dan membimbing anak di dunia digital.
👨👩👧 1. Temani Anak Saat Online
Jangan biarkan anak menjelajah dunia digital sendirian. Coba terlibat dalam aktivitas online mereka—misalnya menonton video edukatif bersama, membantu mereka mencari informasi untuk tugas, atau sekadar ngobrol tentang apa yang mereka lihat di media sosial. Dengan begitu, anak merasa aman dan tahu bahwa orang tuanya peduli.
🔒 2. Manfaatkan Fitur Kontrol Orang Tua
Sekarang banyak aplikasi dan perangkat yang punya fitur “Parental Control”. Gunakan fitur ini untuk menyaring konten yang tidak pantas atau membatasi waktu layar anak. Namun ingat, teknologi ini hanyalah alat bantu—pendampingan dan komunikasi tetap yang paling penting.
💬 3. Bangun Komunikasi yang Hangat
Anak-anak akan lebih terbuka jika mereka merasa didengar. Dengarkan cerita mereka tentang pengalaman di internet—termasuk hal yang membuat mereka tidak nyaman. Jadikan setiap percakapan sebagai kesempatan untuk mengajarkan nilai, etika, dan cara berpikir kritis dalam bermedia digital.
🌟 4. Jadi Teladan Digital
Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat. Jika orang tua bijak dalam menggunakan media sosial, tidak menyebar berita palsu, dan menghargai privasi orang lain, anak pun akan meniru hal baik itu. Jadilah panutan digital bagi mereka.
🧑🏫 Kerja Sama Orang Tua dan Guru
Mendidik anak di dunia digital bukan tugas orang tua saja. Guru dan sekolah juga punya peran besar dalam membentuk karakter anak agar mampu menggunakan teknologi secara cerdas dan beretika. Melarang anak memakai gawai bukan solusi, tapi membekali mereka dengan kemampuan untuk menyeleksi dan memahami konten adalah langkah yang jauh lebih efektif.
💡 Apa Kata Penelitian?
Beberapa penelitian dunia juga memperkuat pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak di dunia digital:
- 📚 National Library of Medicine (2024) menyebutkan bahwa terlalu banyak waktu di depan layar bisa mengganggu tidur, konsentrasi, dan menurunkan kemampuan akademik anak.
- 🎓 Cambridge Judge Business School (2024) menemukan bahwa multitasking digital (misalnya menonton sambil main HP) dapat membuat anak lebih impulsif dan sulit fokus.
- 🌍 Frontiers in Developmental Psychology (2024) melaporkan 1 dari 4 anak sudah mengalami pengalaman tidak menyenangkan di dunia maya, seperti melihat konten yang mengganggu.
- 💬 Johns Hopkins Medicine dan Child Mind Institute juga mencatat bahwa media sosial dapat menimbulkan tekanan emosional, membuat anak merasa cemas, dan menurunkan rasa percaya diri.
- 🧩 ScienceDirect (2025) menegaskan bahwa gaya pengasuhan digital terbaik adalah yang aktif dan melibatkan anak, bukan yang hanya memberi larangan.
🌱 Kesimpulan
Internet memang punya sisi negatif, tapi juga banyak manfaat kalau digunakan dengan bijak. Orang tua dan guru bisa membantu anak memahami dunia digital dengan pendampingan, komunikasi, dan contoh yang baik.
Mari kita bantu anak-anak tumbuh menjadi generasi digital yang cerdas, sopan, dan bertanggung jawab — bukan hanya pengguna teknologi, tapi juga pelaku positif di dunia maya.
Sumber:
- Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) – Kampanye Literasi dan Keamanan Digital Anak
- National Library of Medicine (PMC, 2024)
- Cambridge Judge Business School (2024)
- Frontiers in Developmental Psychology (2024)
- Johns Hopkins Medicine
- Child Mind Institute
- ScienceDirect – Computers in Human Behavior (2025)
- eSafety Commissioner Australia – Parenting in the Digital Age