Jejak Digital Anak Hari Ini, Masa Depan Mereka Nanti
Di era digital, anak-anak semakin akrab dengan internet sejak usia dini. Dari menonton video, bermain gim, hingga berinteraksi di media sosial, hampir setiap aktivitas meninggalkan jejak. Jejak inilah yang disebut sebagai jejak digital.
Jejak digital tersebut tidak selalu terlihat, tetapi tercatat dan dapat berdampak dalam jangka panjang. Apa yang dilakukan hari ini dapat memengaruhi masa depan mereka.
Semakin cepat anak mengakses internet, semakin cepat pula jejak digital terbentuk.
Apa Itu Jejak Digital?
Jejak digital adalah rekam seluruh aktivitas dan data yang tersimpan saat seseorang menggunakan internet. Jejak ini terbagi menjadi dua jenis:
1. Jejak Digital Aktif
Data yang secara sengaja dan sadar dibagikan, seperti:
- Mengunggah foto atau video
- Memberikan komentar
- Mengisi formulir online
2. Jejak Digital Pasif
Data yang terekam tanpa disadari, seperti:
- Riwayat browsing
- Alamat IP
- Data aktivitas yang dikumpulkan oleh platform
Artinya, bahkan ketika anak tidak merasa membagikan informasi apa pun, sistem tetap menyimpan data aktivitasnya.
Jejak Digital Bisa Menjadi Risiko Besar
Jejak digital dapat membawa konsekuensi jangka panjang. Beberapa risiko yang perlu menjadi perhatian antara lain:
- Privasi anak terbuka tanpa sengaja
- Rentan terhadap penipuan dan manipulasi digital
- Reputasi digital terbawa hingga dewasa
- Data dapat dimanfaatkan oleh pihak ketiga
- Risiko cyberbullying dan tekanan sosial
Yang diunggah hari ini dapat muncul kembali di masa depan.
Data Pengguna Internet Anak
Berdasarkan data APJII tahun 2025, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 229,4 juta jiwa atau 80,66% dari total populasi. Dari jumlah tersebut, 23,19% merupakan anak berusia di bawah 13 tahun.
Sementara itu, laporan Child Online Safety Report 2023 menyebutkan bahwa hampir 70% anak memiliki aturan penggunaan internet. Namun, sebanyak 21,2% di antaranya tidak mematuhi aturan tersebut.
Data ini menunjukkan bahwa akses internet pada anak sangat tinggi, sehingga literasi dan pendampingan digital menjadi kebutuhan mendesak.
Membangun Kesadaran Digital Sejak dari Rumah
Peran orang tua tidak hanya sebatas memberikan aturan, tetapi juga membimbing anak memahami jejak digitalnya. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Menjelaskan konsep jejak digital dengan bahasa yang mudah dipahami
- Menerapkan pengaturan screen time sesuai rekomendasi WHO
- Mengajarkan etika digital sejak dini
- Memeriksa pengaturan privasi bersama anak
- Menggunakan fitur parental control secara bijak
- Melibatkan sekolah dalam penguatan literasi digital
Pendekatan yang tepat bukan semata-mata kontrol, melainkan pembentukan kesadaran dan tanggung jawab.
Jejak digital bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga menyangkut masa depan anak. Melindungi jejak digital mereka berarti membangun masa depan yang aman, sehat, dan penuh peluang.
Kesadaran digital yang dimulai dari rumah akan menjadi fondasi penting dalam menghadapi tantangan dunia digital yang terus berkembang.
Sumber Referensi
- Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Data Pengguna Internet Indonesia Tahun 2025.
- Child Online Safety Report, Laporan Keamanan Anak di Dunia Digital Tahun 2023.
- World Health Organization (WHO), Rekomendasi batasan waktu penggunaan layar (screen time) pada anak.